Sobat ASN kemungkinan besar saat ini merasakan fenomena baru terkait kecerdasan buatan (AI). Di sekitar rumah atau kantor terlihat banyak poster, flyer, spanduk, banner, backdrop UMKM yang desainnya eyecatching. Mulai dari tukang seblak, pecel lele, cukur rambut, sampai sekolah-sekolah yang sedang proses SPMB juga tidak sedikit yang menggunakannya. Mungkin backdrop kegiatan atau video background rapat kantor Sobat ASN juga dibuat oleh AI.
Jika dahulu desain seperti itu terlihat dibuat pakai aplikasi presentasi, atau paling hebat pakai Canva/Figma, sekarang terlihat lebih profesional (komposisi warna, tipografi, ketajaman foto semuanya memuaskan). Seharusnya, kondisi ini membuat banyak orang semakin menikmati gambar-gambar tersebut.
Tapi, sebagian orang justru mencibir gambar karya AI, bukannya semakin menikmati karya visual. Simak beberapa alasan umum terjadinya fenomena AI Art Fatigue beserta cara membuat karya AI dengan prompt yang detail.
Bias “Emotional Deficiency” adalah kondisi yang mana publik mencap AI tidak memiliki emosi (jangan artikan emosi secara sempit seperti orang marah-marah). Orang-orang percaya AI tidak memiliki niat artistik, emosi, atau pengalaman manusia. Ketika tahu sebuah karya buatan AI, mereka secara otomatis memberi penilaian pada karya AI sebagai kualitas rendah, sekalipun terlihat sangat memesona (studi dari East China Normal University).
Faktanya, dalam keseharian kita sudah dibombardir oleh karya AI. Sebagai contoh, foto yang dihasilkan oleh kamera di ponsel kita dipoles sedemikian rupa agar penyesuaian gambar (image adjustment) menjadi optimal. Kamera bisa mendeteksi lingkungan dengan scene detection, sehingga ISO, apperture, dan shutter speed secara otomatis mengikuti kondisi sekitar. Kamera ponsel juga bisa mendeteksi apakah objek sedang bergerak atau diam, sehingga shutter speed diatur otomatis dan penyesuaian HDR juga pas . Apalagi, sebelum diunggah ke media sosial foto kembali dipoles dengan berbagai filter supaya terlihat makin sempurna (lebih putih, lebih langsing, lebih bokeh, dll.). Ketika orang-orang tidak sadar bahwa apa yang mereka lihat adalah karya AI, bias ini tidak muncul, sehingga penghargaan pada karya masih cukup baik.
Faktor lain yang memicu pandangan negatif pada karya AI adalah ancaman pada manusia (studi dari UBC Sauder School of Business). Pengurangan tenaga kerja akibat penggunaan AI, misalnya, sering menyulut trauma mendalam pada mereka yang terkena PHK karena kehadiran AI. Hal ini menyebabkan sebagian orang rela bayar mahal pada suatu karya yang dihasilkan manusia. Usaha manusia yang membutuhkan waktu lama, kendati berujung pada karya yang sama persis dengan AI, dihargai lebih tinggi daripada hasil AI.
Pada sisi lain, banyak orang yang membutuhkan hasil cepat dan harga murah, terutama kaum mendang-mending. Kenaikan gaji pokok ASN yang cenderung stagnan membuat penghargaan pada karya manusia harus terpinggirkan. Ilustrasi mudah adalah batik tulis vs batik cetak. ASN yang mampu membeli batik Korpri tulisan tangan tentunya bukan kaleng-kaleng mengingat harga sepotong baju setara perjadin beberapa hari tanpa dikurangi makan, snack, oleh-oleh, dan transportasi yang tidak ditanggung kantor.
Bias pada karya AI tidak dapat diberantas seutuhnya, tapi bisa dikurangi. Salah satu cara ialah penggunaan gaya (style art) yang unik. Bayangkan ketika ada 100 entitas (misal kantor, sekolah, bisnis, UMKM, rumah sakit) menggunakan prompt yang sama dan platform AI yang sama, hasilnya kemungkinan besar sama. 100 orang pesan bakso, maka yang datang bakso. Tapi ketika pakai pesanan khusus (misal tidak pakai daun bawang dan mi kuning, pakai kuah mercon, bakso urat besar granat, pakai toge ukuran 4 cm, pakai sawi hijau setara kode hex RGB #228B22, pakai penyedap rasa sapi Madura usia 2 tahun 3 bulan, dan pakai mangkok ayam jago dengan bunga berkelopak 8) Sobat ASN akan memiliki karya unik pakai banget. Dalam dunia digital, makna unik tidak terbatas!
Untuk membuat prompt gambar karya AI, cara yang biasa terbukti efektif adalah membuatnya detail seperti gaya bahasa JSON. Berikut contoh karya AI dengan cara tersebut.

Lihat/unduh prompt untuk membuat poster di sini. Contoh poster di atas hanya sebagian kecil gaya yang biasa terlihat sehari-hari. Ada puluhan jenis gaya yang masih jarang digunakan dalam karya AI yang bisa Sobat ASN gunakan supaya orang yang melihatnya tidak merasa jenuh karena selalu melihat gaya poster yang sama. Silakan baca dan temukan gaya lainnya di referensi di bawah ini:
- https://banana-ai.org/styles
- https://7labs.io/article/top-animated-art-styles-for-chatgpt.html
- https://www.neolemon.com/blog/list-of-art-styles-for-ai-prompts/




